TVRI Versus Youtube

17 December 2012 | 19:38

Saya sedang memperhatikan anak saya, Devan (5 thn), yang sedang asyik menikmati film kartun ‘Mr. Bean’ di kanal youtube. Saya jadi membandingkan keadaannya sekarang dengan keadaan saya berpuluh tahun silam, di usia yang sama dengannya.

Pada saat saya berusia 5 tahun, di tahun ‘84, saya tumbuh dengan kondisi yang sedang terbatas namun tidak kekurangan. Akses televisi yang saya punya ketika itu adalah TVRI. Kondisi ini secara tidak sadar membentuk saya untuk selalu berlatih menunggu. Menunggu kapan saat acara televisi favorit saya akan tayang pada waktunya. Semua demikian teratur, bisa dibilang segala sesuatu ada jadwalnya, termasuk jadwal belajar setiap hari dari pukul 19.00 sampai pukul 21.00. Kondisi ini membentuk kepribadian saya, menjadi pribadi yang sabar, bersedia menunggu, bersedia melalui sebuah proses, sebelum saya bisa mendapatkan hasilnya.

Mari bandingkan dengan apa yang anak saya alami sekarang. Saat ini kita berada pada masa dimana segala bentuk informasi bisa kita akses secara on-demand alias sesuai kebutuhan kita. Saat tulisan ini saya buat, anak saya sedang menikmati film kesukaannya. Dia tidak lagi mengalami saat-saat harus menunggu untuk bisa mengakses film yang ingin ditonton. Youtube menyediakan semuanya, tinggal menunggu untuk diakses. Kondisi ini secara tidak sadar akan membentuk pribadinya menjadi pribadi yang ingin serba cepat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Salahkah dia? Tidak, sama sekali tidak. Satu lagi hal yang saya ingat, dulu ketika saya menginginkan sebuah mainan, ayah saya selalu mengatakan “maaf Papa tidak punya uang”. Sekarang, alih-alih mengatakan “maaf Ayah tidak punya uang”, saya lebih memilih untuk mengatakan, “Uangnya ada Kak, tetapi Ayah harus menabung terlebih dahulu”. Hal ini tidak lain untuk mengajari anak-anak saya tentang sebuah proses yang harus dijalani sebelum bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Atau pernyataan, “Uang mudah dicari, asal kamu tahu caranya!” Saya kira itu akan lebih mendorong anak-anak kita untuk berpikir mencari cara agar bisa berusaha guna mendapatkan uang yang dia perlukan. Well, ini hanya pendapat pribadi saya.

Saya jadi teringat puisi Khalil Gibran tentang Anak:

Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

– Khalil Gibran

Anak-anak kita suatu saat akan hidup pada zaman yang mungkin sama sekali berbeda dengan zaman dimana kita hidup sekarang. Tugas kita sebagai orang tua adalah membekalinya agar mereka siap untuk menghadapi tantangan hidup pada masa yang akan datang.

Salam!

pp_wied

Wijanarko Dwi Utomo

Alumni Fakultas Psikologi Unpad 1997, gemar menulis, dan belajar dari tulisan orang lain.

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/12/17/tvri-versus-youtube-516854.html

(Visited 20 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments