Pola Asuh Anak Tunggal

Art-Psi Perkembangan 2011

Wednesday, September 07, 2011

single daughter

Image courtesy of stockimages/ Freedigitalphotos.net

Suatu ketika, saat anak saya masih balita, di ruang tunggu dokter saya berbincang dengan beberapa ibu yang sama-sama sedang menunggu giliran dipanggil. Melihat anak saya berlarian ke sana ke mari sendirian, seorang ibu menyapa saya ,”Bu, anaknya main sendirian? Tidak diawasi?”

Saya melihat sejenak ke anak saya, dan dia berhenti berlari, lalu tersenyum. Saya ikut tersenyum, lalu menjawab ibu yang tadi bertanya ,”Oh, tidak. Dia biasa bermain sendiri, atau dengan teman-teman yang ada di sekitarnya. Kenapa, Bu?”

“Anaknya cuma satu, ya?” ibu yang manis itu bertanya lagi. Ia sedang memangku seorang bayi,  dan di dekatnya ada seorang anak balita, yang memegang ujung baju ibunya.

“Alhamdulillah, Bu…iya.” Saya tersenyum.  Melirik ke arah anak saya, yang sekarang asyik bermain dengan seorang anak lainnya.

“Waaah, hati-hati lho, Bu… Anak satu, anak tunggal biasanya manja !” celetuk ibu lainnya, yang duduk berseberangan dengan tempat kami.

“Ya, bagaimana tidak manja. Tidak ada saingannya,” sambut ibu yang lain. “Seperti anak saya tuh. Segalanya maunya Mamanya dan susternya saja yang melakukan untuk dia. Tuh, dia lagi duduk di sana dengan susternya.”

“Bener, Bu. Anak tunggal kalau salah asuh bisa merepotkan. Untunglah anak saya sekarang sudah sepasang.” Ibu yang di dekat kami menyambung . Senyumnya mengembang.

Senang rasanya bisa berbincang di ruang tunggu seperti ini. Biasanya ibu-ibu akan berdiskusi mengenai perkembangan anak-anaknya, dan saling mendukung bila ada seorang anak yang kurang beruntung atau sakit seperti salah seorang ibu yang tadi menggendong anaknya.

Pulang dari kunjungan kontrol ke dokter langganan itu, saya jadi berpikir-pikir. Anak tunggal? Hmmh…saya sendiri di dalam hati memang belum terpikir, apakah anak saya akan menjadi anak tunggal, semata wayang, atau nanti akan diberi kepercayaan untuk mendapat seorang atau dua orang adik lagi. Tapi apa pun…sejak awal, saya memang sudah mempersiapkan anak saya untuk mandiri. Punya adik, atau punya kakak, menurut hemat saya, seorang anak tetaplah harus mandiri. Dapat mengeksplorasi  potensinya, dan dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Lalu… seandainya anak saya memang akan menjadi anak tunggal, apa yang harus saya persiapkan baginya, agar dia tidak manja dan merepotkan, seperti kata ibu-ibu di ruang tunggu dokter tadi? Apakah anak tunggal memiliki keistimewaan untuk menjadi manja dan merepotkan? Apakah anak tidak tunggal akan lebih baik daripada anak tunggal?

Dengan berbagai pemikiran seperti itu, saya lalu mencari-cari referensi dan bertukar pengalaman dengan teman dan kenalan yang memiliki anak tunggal. Cara mereka mengasuh dan mengelola anak tunggalnya, agar dapat mandiri dan percaya diri. Dan beberapa hal yang kiranya perlu menjadi perhatian para ibu dan ayah, yang kebetulan menjadi orangtua dari seorang anak tunggal adalah sebagai berikut ini.

KESIAPAN MENTAL

Menjadi orangtua, apakah anak tunggal atau beberapa anak, membutuhkan kesiapan mental, terutama kematangan emosi ayah dan ibu. Banyak orang berpikir, bahwa dengan kehadiran anak, secara otomatis mereka akan siap menjadi orangtua. Tapi ternyata, apa yang dialami oleh orang lain, belum tentu dapat diterapkan pada diri sendiri.

Pasangan ayah dan ibu harus siap mental bahwa dengan kehadiran anak mereka harus mengikis egonya, dan harus siap berbagi mengasuh anaknya bersama-sama. Waktu yang diberikan kepada anak, tidak hanya dari segi kuantitas, tapi lebih penting lagi adalah segi kualitasnya. Anak, sejak lahir hingga berusia lima tahun, yang disebut dengan golden moment membutuhkan kehadiran orangtuanya, ataupun pengganti orangtua yang dapat mendampinginya setiap saat.

Saat mereka tumbuh dan berkembang, mereka tidak hanya membutuhkan  rangsangan untuk perkembangan fisik seperti merangkak, duduk, berdiri, berjalan, makan, minum, lari , melompat dan sebagainya, tetapi juga membutuhkan rangsangan emosi dan sosial. Sapaan yang lembut, ciuman dan pelukan yang hangat adalah kebutuhan anak yang tidak bisa digantikan dengan alat permainan yang semahal apapun. Sentuhan kasih sayang dari kedua orangtua inilah yang harus selalu diberikan oleh ayah dan ibu. Tidak ada alasan bagi kedua orangtua untuk mengatakan, ”Saya sibuk!” lalu memberikan sebuah boneka kepada anaknya untuk teman bermain.

Selain itu, waktu yang dipergunakan untuk mengasuh anak kadang menyita waktu orangtua. Waktu kerja, waktu istirahat, waktu bergaul harus dikurangi demi menjaga perkembangan anak. Di sinilah ego orangtua, yang semula hanya hidup untuk dirinya dan pasangannya harus dikurangi lagi dengan kehadiran anak. Orangtua yang biasanya punya waktu untuk menikmati acara tivi kesayangannya, atau menjalankan hobi lainnya harus rela berkorban untuk menunda kegemarannya. Bahkan mereka yang biasa menyantap makanan apa saja sesuai seleranya, harus pula menyesuaikan makanannya dengan kebutuhan anak.

Kelihatannya hal seperti ini sangat sepele. Apalah artinya mengurangi waktu pribadi kita? Tapi pada kenyataannya, banyak sekali pasangan muda merasa kerepotan dan tidak siap mental untuk mengikis ego dan berbagi waktu dengan anaknya.

Kesiapan mental orangtua, terutama pasangan muda, akan berpengaruh pula pada perkembangan mental anak. Orangtua yang matang emosinya akan lebih mudah mengelola anaknya, dan pada gilirannya dapat menerapkan nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada anaknya sehingga anaknya akan tumbuh berkembang secara optimal. Anak yang memiliki orangtua dengan kesiapan mental yang matang, akan tumbuh menjadi anak dengan pribadi yang kuat dan mandiri.

NILAI BERBAGI dan PEDULI

Problem yang sering diangkat oleh para orangtua yang memiliki anak tunggal adalah anak yang manja dan egois, tidak mau berbagi. Hmmh… sebenarnya, siapa yang membuat anak kita menjadi egois dan tidak mau berbagi? Dari mana anak belajar untuk menjadi egois dan hanya mementingkan diri sendiri saja? Dari kita. Orangtuanya !

Oleh sebab itu, nilai pertama yang ditanamkan pada anak, terutama anak tunggal adalah nilai tentang berbagi dan kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan sekitarnya. Kadang-kadang karena sangat sayang kepada anak, dan ada rasa takut kehilangan, maka orangtua bertindak berlebihan kepada anak. Anak diproteksi atau dilindungi sedemikian rupa, sehingga tidak dapat menyentuh atau pun tersentuh oleh lingkungan. Anak seakan-akan dibentengi dengan peraturan yang ketat, dan kemudian dibanjiri dengan fasilitas yang berlebih.

Kunjungan antar keluarga, kunjungan antar teman, bermain bersama dengan anak-anak yang sebaya dari berbagai kalangan juga akan memperkaya ruang pergaulan anak. Dengan bertemu banyak orang, ia juga harus belajar mengikis egonya yang biasanya mendapat fasilitas khusus. Ia jadi belajar, kapan harus maju, kapan harus bertahan, kapan harus mundur. Ia pun jadi menyadari kapan ia memiliki kelebihan yang harus dibagikan kepada orang lain, karena berbagi adalah awal dari kepedulian.

Dengan mendidik anak untuk peka, peduli terhadap lingkungan, mau berbagi kasih sayang dengan sesama, maka anak tidak akan egois dan mementingkan diri sendiri. Kesadaran akan peranannya terhadap orang lain juga akan membuat anak merasa berharga, merasa berarti, dan hal ini akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Tidak hanya itu, mereka juga akan menjadi anak yang ‘manis’ dan selalu siap menolong orang di sekitarnya. Rasa kasih yang sebelumnya sudah ada di dalam dirinya akan semakin berkembang.  Dan kelak, mereka juga akan mengembalikan kasih sayang ini kepada orangtuanya yang telah mengajaran kepedulian terhadap sesama.

MAMPU MENGELOLA DIRI

Satu lagi yang menjadi semacam stereotype dari anak tunggal adalah manja dan tidak bisa apa-apa!

Wooowww… ini stereotype yang sangat tendensius. Bagaimana mereka bisa dan mampu melakukan sesuatu untuk dirinya, bila lingkungan terutama orangtua tidak memberinya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya? Orangtua, terutama ibu, yang merasa sangat sayang dan kuatir kalau anaknya nanti mengalami hal tidak enak dalam hidupnya, lalu memasung anaknya. Tidak boleh melakukan apa pun. Ibu dan segenap suster, pembantu, asisten dan entah apa lagi siap sedia melakukan apa pun untuk si Anak Semata Wayang.

Anak kita, yang semula punya potensi, seperti tanaman yang dipindahkan ke dalam pot. Tidak bisa mengakar dengan baik. Hanya tergantung dari kemurahan hati lingkungan atau orangtua. Di satu sisi orangtua merasa itulah yang terbaik, tetapi ternyata itu keliru. Untuk dapat tumbuh, sebuah pohon membutuhkan hujan dan angin, membutuhkan tanah yang harus diterobosnya dengan akarnya. Begitu juga dengan anak. Bila kita ingin dia tumbuh kuat dan tegar, berikan kesempatan padanya untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Mulai berikan kesempatan kepada anak dari hal-hal yang kecil, seperti membawa gelas minumannya sendiri ke dapur. Merapikan mainannya. Melipat bekas pakaiannya, atau apapun yang dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuannya. Bahkan anak kecil pun sudah dapat diminta untuk membantu membuang sampah bekas makanannya, membantu ayah atau ibunya mengambilkan suatu barang yang cukup dipegangnya. Mengajaknya berpartisipasi dalam kegiatan keluarga, dan sebagainya.

Aktivitas sederhana yang disesuaikan dengan usia anak akan memberinya kesempatan untuk mengenal dirinya, mengetahui potensinya, sehingga dengan demikian tanpa kita banyak memberikan instruksi terus menerus, anak telah dapat mengurus dirinya sendiri.

BERI PILIHAN dan TANGGUNGJAWAB

Anak tunggal seringkali dituding sebagai seseorang yang tidak bertanggungjawab. Hmmh… Kembali lagi ? Mengapa mereka tidak mau bertanggungjawab ? Apakah selama ini kita sebagai orangtua pernah memberi kesempatan kepada anak untuk bertanggungjawab ?

Berbeda dengan anak-anak yang dibesarkan bersama dengan saudara-saudaranya, orangtua kadang-kadang sudah menyerahkan pilihan dan tanggungjawab bersama di antara anak-anak tersebut. Anak tunggal tidak memiliki teman atau saudara untuk berbagi pengalaman. Itu sebabnya, kadang-kadang mereka kelihatan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini seyogyanya orangtua memberi kesempatan, memberikan pilihan, dan memberi peluang anak untuk bertanggungjawab. Seandainya anak bingung, ragu-ragu ataupun salah membuat keputusan, jangan segera diambil alih. Biarkan mereka menikmati saat-saat itu, karena dengan demikan mereka akan belajar bertanggungjawab.

Anak tunggal yang dipersiapkan sejak awal, diberi kesempatan untuk menggali kemampuan dirinya, termasuk kemampuan untuk bertanggungjawab atas tindakannya akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan dapat mengelola dirinya secara baik. Kesadaran bahwa ia tidak dapat berbagi pengalaman kepada siapa pun, dan harus ditanggulangi sendiri, akan membuat mereka lebih matang dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki saudara untuk berbagi pengalaman. Ketiadaan pendukung bagi anak tunggal tidak membuatnya terpuruk, tetapi dengan kepercayaan yang diberikan orangtua, ia akan lebih cepat matang dan mampu menentukan pilihannya sendiri.

Kembali kepada anak tunggal, ternyata saya tidak sendirian. Banyak teman dan sahabat saya juga akhirnya hanya memiliki satu orang anak, semata wayang. Dan pada kenyataannya, anak-anak tunggal ini tidak seperti stereotype yang dikuatirkan oleh sebagian besar orangtua .

Semua memang kembali kepada pola asuh, kembali kepada bagaimana kita menjadikan anak seperti dirinya sendiri. Bukan bayang-bayang orangtua. Bukan juga seseorang yang dipasung kemerdekaannya,  sehingga akhirnya ia menjadi beban bagi keluarga dan lingkungannya.

Yang penting, berapa pun jumlah anak kita di dalam keluarga, tunggal atau lebih dari satu, kita sebagai orangtua dapat menerapkan pola asuh yang strategis dan unik, sesuai dengan potensi setiap anak. Berikan kesempatan mereka untuk berkembang. Berikan kesempatan mereka untuk menjadi bagian dari dinamika kehidupan ini.

Jakarta, 9 September 2011

Salam hangat,

Mbak Ietje

Ietje S. Guntur

–      Psikolog, pemerhati pendidikan anak dan remaja, orangtua anak tunggal

(Visited 236 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments