Pentingnya Pendidikan Seks Untuk Anak Usia 1-4 Tahun

Image courtesy of sscreations/ Freedigitalphotos.net

Image courtesy of sscreations/ Freedigitalphotos.net

Maraknya berita mengenai pelecehan dan kekerasan seksual pada anak tentu mengkhawatirkan orangtua dan juga pendidik. Salah satu faktor penyebabnya ternyata adalah karena anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk melindungi dirinya. Budaya yang ada dan berkembang di masyarakat masih menabukan pembicaraan yang berkaitan dengan seksualitas. Seks dianggap tidak pantas untuk dibicarakan dan didiskusikan. Belum lagi anggapan bahwa ‘seks’ = ‘jorok’ yang membatasi pembicaraan mengenai seksualitas menjadi pembicaraan diam-diam dan bisa jadi tak tentu arah karena informasi yang didapatkan tidak tepat.

Padahal bicara tentang pendidikan seks pada anak dan remaja, bukanlah seperti yang ada di dalam benak kita orang dewasa. Bukan berarti anak-anak akan belajar mengenai hubungan suami istri, misalnya. Atau, justru remaja akan paham dan melakukan perilaku seks bebas. Bukan itu yang menjadi tujuan pendidikan seks pada anak, dan juga remaja.

Yang ingin disampaikan pada anak dan remaja adalah bahwa tubuh mereka sangat berharga dan harus dijaga dengan baik. Komunikasi dengan Orangtua dan Pendidik juga harus terjalin baik sehingga anak dan remaja akan bertanya dan mendapatkan informasi yang tepat.

Untuk itu, Orangtua dan Pendidik pun harus belajar mengenai pendidikan seks sesuai usia anak agar dapat menjadi pendamping yang tepat. Diharapkan anak-anak memiliki pemahaman yang baik mengenai tubuhnya, mampu menghargai, dan menjaganya dengan baik. ♥

Risih, Bagaimana Jika Saya Tidak Mau Bicara Tentang Seks Pada Anak?

Jika Anda menolak untuk membahas pertanyaan dan memberikan informasi pada Anak mengenai seks, maka Anda termasuk melestarikan budaya bahwa seks itu tabu, jorok, dan memalukan. Anak Anda akan tumbuh sebagai individu yang tidak tahu bagaimana caranya menjaga diri sehingga ada kemungkinan orang lain memanfaatkan dirinya secara seksual. Anak Anda mungkin akan berkembang sebagai individu yang menganggap seks sebagai kegiatan yang menakutkan atau menjijikkan. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.

Kalau Anda risih karena bingung bagaimana menjawab pertanyaan anak secara tepat, penjelasan berikut mungkin dapat menjadi solusinya.♥

Perkembangan & Pertanyaan Seputar Seks Sesuai Usia Anak

Sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya yang bertahap, pertanyaan anak mengenai seks juga akan bertahap sesuai dengan usianya. Tentu ini melegakan untuk orang dewasa dalam mendampingi dan menjadi sumber informasi anak. Berikut adalah pertanyaan dan fokus perhatian anak sesuai dengan usianya.

0-2 Tahun. Di usia ini anak mulai mengeksplorasi tubuhnya sebagai bagian perkembangan diri. Anak juga belajar untuk mengenali anggota tubuhnya. Organ genital sama dengan anggota tubuh lainnya, jadi harus dikenalkan dengan nama sebenarnya, yaitu penis dan vagina. Ini saat yang tepat untuk menumbuhkan kepercayaan pada anak untuk dapat bertanya dan membicarakan apa saja yang ingin diketahuinya pada orangtua.

2-3 Tahun. Di usia ini, tidak hanya tubuhnya sendiri yang menarik perhatiannya, anak pun mulai tertarik dengan tubuh orang lain. Pertanyaan-pertanyaan seputar tubuh orang dewasa, biasanya orangtua, akan mulai muncul di rentang usia ini. Jenis permainan pura-pura (role play) juga memberi kesempatan anak untuk mengembangkan pemikirannya mengenai tubuh. Perkembangan kemampuan berpikirnya memungkinkan anak untuk mengamati lingkungan dan kejadian di sekitarnya sehingga mulai muncul pertanyaan-pertanyaan seputar seksualitas.

Di usia ini anak sudah dapat membedakan perasaan nyaman dan tidak nyaman. Melalui interaksinya dengan lingkungan, termasuk sentuhan, anak akan belajar untuk membedakan mana sentuhan yang nyaman dan tidak. Beri kesempatan anak untuk mengekspresikan perasaan tidak nyamannya. Ini akan menjadi modal anak untuk mengembangkan kesadarannya akan bahaya yang mungkin dihadapinya. Jadi, jangan paksa anak untuk selalu merasa nyaman dengan sentuhan (berjabat tangan, peluk, cium, dsb) yang dilakukan oleh orang lain. Bahkan oleh orangtuanya sendiri. Biasakan anak untuk tidak mudah mau dipeluk atau dicium oleh orang lain. Bukan perkara sopan santun, tetapi keamanan diri.

3-4 Tahun. Pertanyaan dari anak usia ini kadang membuat orang dewasa merah padam mukanya dan tak tahu harus menjawab apa, misalnya “Aku lahir dari mana? Bagaimana cara membuat bayi?”

Anak usia 3-4 tahun  mulai memperhatikan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Tampilan fisik luar dan juga organ genital akan menarik perhatiannya. Sesuai dengan perkembangan berpikirnya, Anak usia 3-4 tahun sudah dapat membedakan mana perilaku yang dapat dilakukan secara terbuka dan perilaku yang tidak boleh dilakukan di depan umum. Rasa malu mulai berkembang di usia ini. Melalui pembiasaan, orang dewasa di sekitar anak dapat mengajarkan anak untuk menjaga dirinya dari sentuhan dan paksaan.♥

Kapan Mulai Berbincang dengan Anak tentang Seks?

Biasakan berbincang mengenai seksualitas pada anak sejak dini. Kalau Anda perhatikan artikel sebelumnya, topik pembicaraan dimulai dari anggota tubuh. Tidak seram seperti bayangan Anda, bukan?

Buat perbincangan sebagai sesuatu yang normal dan rutin, sehingga anak pun akan merasa bahwa pembahasan mengenai seks adalah biasa saja, bukan sesuatu yang spesial. Gunakan kesempatan ketika menonton televisi, membaca buku, dan berbagai situasi harian lainnya.

Tanyakan pendapat anak mengenai suatu kejadian. Bila Anda mendapatkan pertanyaan yang tidak bisa segera Anda jawab, katakanlah sejujurnya dan pastikan Anda mencari jawabannya. Anak sangat peka dengan perubahan ekspresi dan intonasi Anda. Jadi, berlatihlah untuk tidak kaget atau tampak panik di hadapan Anak. Jawab pertanyaan anak sesuai kemampuannya. Perbanyak pengetahuan Anda sehingga siap.♥

Pelajaran Utama dalam Pendidikan Seks

Bicara seksualitas berarti bicara tentang tubuh. Dan, jika berbicara dengan anak-anak, maka selalu ingat bahwa cara berpikir anak adalah kongkrit/nyata. Kenalkan anak dengan anggota tubuh, termasuk organ vital. Mulai dengan nama anggota tubuh. Kemudian, cara merawatnya. Gigi harus disikat setiap hari agar bersih, demikian pula dengan organ genital.

Ajarkan anak bahwa ada anggota tubuh yang tidak untuk diperlihatkan dan disentuh oleh orang lain, kecuali Ibu (atau yang menggantikan tugas Ibu) dan Dokter/perawat di ruang dokter/Rumah Sakit. Batasnya adalah dari leher sampai lutut. Minta anak untuk memeragakan dan menyebutkan bagian tubuh yang tidak boleh terlihat dan tidak boleh di sentuh. Ulangi secara berkala.

Biasakan anak untuk terbuka menceritakan segala pengalamannya pada orangtua. Bersikaplah sebagai pendengar aktif, sehingga anak akan datang pada Anda untuk bercerita. Latih anak untuk dapat mempertahankan dirinya bila ia merasa terancam. Bermain peran dapat membantu anak berlatih secara nyata untuk membela diri. ♥

Orangtua Sebagai Sumber Informasi

Sejak usia dini, Orangtua harus mempersiapkan diri sebagai sumber informasi utama bagi anak, termasuk tentang topik seksualitas. Ini merupakan modal utama karena perjalanan anak akan sangat panjang, bahkan memasuki masa pubertas kelak.

Anda, sebagai orangtua, akan berkembang bersama anak. Anda akan menjadi sumber informasi utama, sehingga apa pun yang anda sampaikan harus benar, tepat, dan menjawab pertanyaan anak.

Bila anda tidak bersedia menjadi pusat informasi bagi anak, maka ia akan mencari dari sumber informasi lain yang belum tentu tepat apalagi benar. Saat ini dunia berubah menjadi sumber informasi yang sangat luas yang dapat diakses secara mudah, bahkan oleh anak sekalipun. Tapi, dunia digital tidak akan memperhatikan berapa usia anak Anda dan bagaimana cara menyampaikannya. Bisa jadi anak anda akan mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Dunia digital juga tidak peduli bagaimana cara menyampaikan informasi yang disediakannya. Bisa jadi sangat vulgar dan tidak dapat dicerna oleh pikiran anak. Akibatnya, justru anak menjadi terobsesi dengan tema-tema yang ada di topik seksualitas.

Tidak perlu merasa cemas dan khawatir mengenai topik seksualitas. Karena sejatinya anak memiliki banyak aktivitas dan topik lain yang dipikirkannya. Bermain, misalnya, yang menjadi pekerjaan utama dari anak-anak. Belum lagi sederet tugas perkembangan yang harus dipenuhinya. Jadi, jangan lantas orangtua menjadi khawatir bila topik seksualitas menjadi bahasan lalu anak akan menjadi sangat tertarik dan kecanduan dengan topik ini.

Komunikasi antara orangtua dan anak akan menjadi sangat indah dan menyenangkan bila kedua pihak (baca : anak dan orangtua) dapat mengembangkan kebutuhan dan kesiapan untuk berkomunikasi dengan tepat. Termasuk untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya sensitif secara budaya atau norma.

Sikap santai dan tenang dapat ditampilkan orangtua bila perasaan siap sudah dimiliki orangtua. Selalu review pengetahuan Anda dalam topik seksualitas sesuai dengan usia anak. Persiapkan diri Anda dengan membaca atau berdiskusi dengan orangtua lainnya.

Topik seksualitas sebenarnya adalah topik yang alamiah. Dan, tugas orang dewasa membimbing generasi yg lebih muda tentang kehidupannya. ♥

KISSS = Keep It Short, Simple, and Scientific

KISSS merupakan akronim sebagai panduan untuk menjawab pertanyaan Anak.

Short . Jawab pertanyaan anak dengan pendek (kalimat singkat). Tidak usah berinisiatif menjelaskan panjang lebar. Bisa jadi informasi yang anda sampaikan tidak sesuai dengan usia dan kemampuan anak, bahkan jadi membingungkan anak. Jadi, gunakan kalimat singkat.

Simple. Alias sederhana. Patokan seberapa sederhana adalah sesuaikan dengan usia anak dan kemampuan berpikir anak. Menjawab pertanyaan anak usia 2 tahun beda dengan menjawab anak usia 4 tahun. Misalnya, anak 2 tahun bertanya, “adik bayi dari mana?” Bisa dijawab “dari perut Mama” Anak akan belajar bahwa kalau ada perempuan dengan perut membesar, maka ada adik bayi di dalam perutnya. Kalau anak usia 4 tahun, mungkin pertanyaannya akan berkembang, “di dalam perut, adik bayi makannya bagaimana?” Jawaban harus tetap sederhana, “makannya dari makanan yang mama makan”

Scientific atau ilmiah. Jelaskan pada anak dengan sebenarnya apa yang terjadi dan menggunakan nama ilmiah. Berkaitan dengan pertanyaan tentang adik bayi makan dari mana, bisa dijelaskan bahwa ada plasenta yang menghubungkan adik bayi dengan mama sehingga adik bayi bisa makan dan bertumbuh besar. Menggunakan gambar yang sesuai dan tidak menyeramkan dapat membantu anak memahami jawaban dari pertanyaannya. ♥

 alzena

Ditulis Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan.

Alzena merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 1995. Melanjutkan studi di Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan spesialisasi Klinis Anak dan Psikologi Pendidikan dan lulus di tahun 2002, Alzena saat ini aktif menjadi narasumber perihal psikologi anak di media massa. Ia dapat dihubungi di Bestariku (www.bestariku.co.id), Pusat Edukasi Anak dan Keluarga di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

(Visited 312 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments