Kewirausahaan Sosial di Indonesia: Indonesia Banget

Mungkin Anda bingung menemukan sebuah istilah baru yang belakangan mulai menjadi tren di media, socio-preneur atau social entrepreneur. Bagaimana sih kombinasi antara sosial dan entrepreneur itu? Apakah pengusaha yang berjiwa sosial atau aktivis sosial yang jadi pengusaha?

Social entrepreneur itu memang semacam ‘mahluk hybrid’. Wirausaha sosial atau social enterprise/entrepreneur umumnya merujuk pada orang/organisasi/lembaga yang memiliki tujuan sosial/lingkungan hidup yang jelas, menggunakan kegiatan ekonomi/usaha untuk mencapai tujuannya (sebagian besar pendapatannya digunakan untuk mencapai tujuan tersebut). Di Eropa pada umumnya, wirausaha sosial terbaik adalah yang dikelola secara demokratis (pengambilan keputusan melibatkan berbagai pemangku kepentingan) untuk memastikan akuntabilitasnya.

Gerakan kewirausahaan sosial juga merupakan fenomena global. Saya pertama kali  semangat mempelajari wirausaha sosial ketika tahu bahwa Barcelona Football Club dan Bayern Munchen juga dikelola sebagai koperasi dan memiliki tujuan sosial yang kuat.[1]. Jadi bukan hanya prestasi mereka yang baik sebagai 2 klub sepakbola terbesar, mereka juga dikelola untuk kepentingan anggota koperasi mereka (fans) yang merupakan mayoritas pemilik saham di kedua klub.

Sejak saat itu saya berpikir bahwa mungkin kewirausahaan sosial adalah salah satu alternatif untuk bukan hanya atasi masalah tapi juga optimalkan potensi Indonesia. Tapi apakah wirausaha sosial yang katanya merupakan fenomena global ini dapat cocok dan berkembang di Indonesia?

Menggunakan definisi di atas, Indonesia sebenarnya memiliki sejarah panjang aktivitas dan organisasi social enterprise. Bahkan sebelum kemerdekaan, banyak organisasi dan kegiatan yang dapat kita kategorikan sebagai social enterprise[2]. Serikat Dagang Islam, Sekolah Kartini, Taman Siswa, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama dikatakan mewakili social enterprise/wirausaha sosial yang dirintis pada periode 1895-1945.

Saya sepakat bila organisasi-organisasi tersebut dikatakan sebagai pionir kewirausahaaan sosial di Indonesia, karena mereka didirikan dengan tujuan sosial yang kuat (pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dst) dan menggunakan kegiatan ekonomi/usaha untuk mencapai tujuannya. Saya jadi berpikir bahwa ternyata wirausaha sosial di Indonesia memiliki andil yang tidak kecil dalam mempersiapkan bangsa Indonesia untuk merdeka. Jadi bisa dikatakan bahwa wirausaha sosial adalah sesuatu yang ‘Indonesia Banget’

Saat ini pun sebenarnya wirausaha sosial masih berkembang di Indonesia. Salah satu contoh yang saya kagumi adalah Perkumpulan Telapak. Mereka merupakan perkumpulan aktivis lingkungan hidup yang mendirikan Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) di Konawe Selatan[3].

Pada awalnya mereka berjuang untuk mengatasi pembalakan liar melalui advokasi dan investigasi ala aktivis sosial. Merasa kurang efektif, sekarang KHJL mengadopsi  teknik penebangan lestari yang disertifikasi oleh lembaga internasional. Dengan sertifikasi tersebut, harga kayu meningkat drastis, sehingga mempengaruhi kesejahteraan para anggota koperasinya. Sekarang, anggota KHJL secara sadar menjaga dan mengkultivasi hutan mereka dan pola pengelolaan hutan lestari ini mereka replikasi di Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Setahu saya, Perkumpulan Telapak juga memiliki berbagai inisiatif wirausaha sosial lain seperti stasiun televisi dan radio sendiri, serta mengembangkan wisata berbasis budaya dan ekologi. Stasiun televisi dan radio yang pada awalnya didirikan untuk membantu advokasi isu sosial dan lingkungan hidup sekarang berkembang menjadi perusahaan tv dan radio lokal/daerah. Sedangkan program ekowisata dan wisata budaya, didirikan untuk mengembangkan ekonomi berbasis masyarakat yang akan berkontribusi pada pelestarian budaya tradisional dan lingkungan hidup.

Informasi tentang bagaimana kita bisa berperan dalam gerakan kewirausahaan sosial di Indonesia sangat mudah diakses. Berbagai organisasi di Indonesia dapat dijadikan rujukan informasi, seperti Ashoka Indonesia[4], Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI)[5] dan British Council Indonesia[6]. Masing-masing memiliki program untuk mendukung kewirausahaan sosial di Indonesia untuk berbagai kalangan (anak muda, masyarakat pedesaan, sekolah islam, dsb).

Bahkan pihak korporasi dan BUMN juga mulai mengembangkan inisiatif mendukung wirausaha sosial sebagai bagian dari program CSR mereka. Salah satu contohnya adalah Bank Mandiri dengan program Mandiri Bersama Mandiri-nya, sebuah upaya untuk mencari dan membiayai inisiatif wirausaha sosial di berbagai penjuru Indonesia.

Sejak berkenalan lebih jauh dengan wirausaha sosial di Indonesia, saya semakin antusias dan yakin bahwa ini merupakan alternatif yang keren dan efektif, bukan hanya atasi masalah-masalah yang kita hadapi tapi juga optimalkan potensi Indonesia, tanpa terlalu bergantung pada donasi dan amal baik orang lain.

Semoga Anda setuju dan tidak berhenti hanya di situ. Yuk mulai cari tahu bagaimana kewirausahaan sosial yang ‘Indonesia banget’ dan bagaimana kita bisa mendukung mereka!

 Fajar

Fajar Anugerah, Has more than 8 years of experience in managing various projects in private and non-profit sector. An experienced learning experience designer & facilitator with huge passion for social enterprise development.


(Visited 275 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments