AKU – KAMU sebagai Dasar Sebuah Hubungan Sehat (2)

Bagaimana agar hubunganmu tidak menjadi hubungan simbiosis dan beralih pada hubungan sehat? Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan.

Yang pertama, tentunya kenali dirimu sendiri. Kenalilah pikiran-perasaan-kebutuhan-keinginanmu. Lakukan dengan bertanya pada diri dan merenungkannya. Cara mengenali diri lainnya adalah dengan melihat dalam keluhan pasangan terhadapmu, karena dalam keluhannya, pasti ada yang benar. Jadikanlah itu bahan.

Cara lain mengenali diri adalah dengan melihat keluhanmu terhadap pasanganmu. Seringkali itu adalah kebutuhanmu yang tak terpenuhi. “Kamu itu egois banget sih.. nggak pernah merhatiin aku” seringkali sebenarnya menunjuk pada kelemahanmu sendiri, bukan pasangan.

Yang kedua, selain mengenali diri, kenalilah pasanganmu. Amati, tanya, diskusi, kenali. Mengenali dirinya akan membantumu untuk tahu apa pikiran-perasaan-kebutuhan-keinginan DIA, bukan kamu yang hadir dalam dirinya.

Cara berikutnya untuk lepas dari simbiosis adalah memperbaiki cara kalian berdialog, terutama saat situasi emosi negatif. Saat menyampaikan kekesalan/ kemarahan/ kesedihan/ umpan balik, mulailah dengan kata “Aku…” Jangan memulai dengan “Kamu..” karena itu menuduh. Katakan “Aku merasa/ berpikir/ melakukan… ketika kamu… yang berakibat/ sehingga…..” Sampaikan perilaku dan akibat KONGKRIT.

Nah, kalau kamu melakukan simbiosis, maka kamu akan balik marah pada pasanganmu karena “Mengapa kamu merasakan seperti itu? Harusnya kamu…” Dont do that!! Coba lakukan percakapan dengan pola seperti ini: Ulangi – Pahami – Empati. Sekali lagi: Ulangi – Pahami – Empati.

ü  Ulangi adalah ulangi apa yang disampaikan oleh pasanganmu, jangan tambahkan penilaian. “Kamu marah ketika aku tak meneleponmu seharian, benarkah?” Gunanya Ulangi adalah memberikan kepuasan pada pasangan bahwa ia didengarkan, pikiran-perasaan-pendapatnya dihargai.

ü  Pahami artinya cari tahu logika/alasan/sebab mengapa pasangan berpikir/merasa/berlaku seperti itu, lalu sampaikan pemahamanmu. Mungkin kamu tak sependapat, tapi ingat tak sependapat diperbolehkan dalam hubungan sehat. PAHAMI yang terjadi padanya, bukan padamu. “Oh, aku paham mengapa kamu marah aku tak menelepon. Ternyata kamu takut ada sesuatu yang buruk terjadi padaku” Bedakan dengan respon “Kamu marah2 melulu!!” Gunanya Pahami adalah pasangan merasa ia dipahami, tentu saja. Gunanya untukmu adalah kamu paham apa yang terjadi padanya.

ü  Yang ketiga lebih sulit dan perlu latihan lebih: EMPATI. Pahami perasaan/ketakutan/pergumulan dibalik pernyataannya, dan beresponlah terhadap itu. Empati adalah puncak kemampuan memahami bahwa aku dan kamu berbeda, tetapi aku bisa paham yang kamu alami meski aku tak ikut mengalaminya. “Kamu khawatir kehilangan aku dan itu membuatmu marah ke aku. Aku minta maaf untuk itu. Lain kali….” lanjutkan dengan diskusi-kesepakatan.

Panduan Ulangi – Pahami -Empati harus dilatih dengan kesepakatan berdua. Awalnya akan seperti kaku, tapi kemudian akan jadi terbiasa. Tak nyaman karena berubah jadi lebih baik tentunya lebih baik dibandingkan nyaman karena memeprtahankan ketidaknyamanan.

Cara lain untuk menghilangkan simbiosis adalah yang disebut dengan Latihan Kemesraan dan Latihan Kejutan. Apakah itu?

ü  Latihan kemesraan adalah masing-masing kalian menuliskan dengan kongkrit apa yang kamu mau dilakukan oleh pasangan untukmu. Lalu list itu diberikan pada pasangan dan tugas pasanganlah untuk melakukan dua sampai empat hal dari list itu setiap hari. Mudah kan? List kemesraan itu sebaiknya hal yang sederhana tapi bermakna untuk si penulis, semisal makan malam denganku, menuliskan “aku sayang kamu” dll.

ü  Latihan Kejutan adalah dimana kamu diminta memberikan kejutan kecil pada pasanganmu berdasar pada pengamatan apa yang ia inginkan/butuhkan. Membelikan pasanganmu buku yang mungkin pernah ia singgung dalam percakapan tapi belum sempat ia beli adalah contohnya.

Mengapa dua latihan ini penting? Karena menunjukkan kalau keinginanmu dan keinginannya BERBEDA dan kamu dapat memenuhinya karena kamu sayang dia.

Semoga pemahaman dan petunjuk untuk mengubah simbiosis disfungsional menjadi fungsional dalam relasimu membantu kamu dan dia menjadi pasangan yang sehat, tak saja fisik, melainkan juga sehat psikologis dan sehat relasi. Ingat, AKU – KAMU sebagai dasar sebuah hubungan sehat.

bangjeki

Fredrick Dermawan Purba

Penulis adalah staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran yang memiliki ketertarikan pribadi dan professional pada isu seputar relasi intim (intimate relationship). Ia dapat ditemui di kampus Fapsi Unpad tentunya, juga di +628122318534 atau fd_purba@yahoo.com selain juga wara-wiri di twitter dengan akun @bangjeki

(Visited 25 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments