AKU – KAMU sebagai Dasar Sebuah Hubungan Sehat (1)

Dalam relasi intim pasangan (baik pacaran maupun pernikahan), ada dua poin penting yang akan selalu berpasangan dan dijaga perimbangannya: closeness dan separateness. Closeness atau kedekatan/keintiman merujuk pada sensitivitas dan keserupaan dua insan yang saling terikat sangat dekat, seperti menyatu. Separateness/keterpisahan merujuk pada kepekaan akan keperbedaan diri sendiri dengan diri pasangan, pikiran-perasaan-kebutuhan diri pribadi.

Derajat closeness dan separateness dalam suatu relasi pasangan akan berubah sepanjang waktu relasi itu terjalin. Saat  awal relasi dimana pasangan jatuh cinta, closeness sangat tinggi. Demikian pula saat relasi berlangsung sudah begitu lama, pasangan menjadi seperti sahabat, begitu mirip. Saat relasi sudah lewat masa bulan madunya, pertengkaran mulai dihadirkan karena separateness meningkat. “Oooh, ternyata kita banyak bedanya” muncul sebagai kesadaran awal separateness. Meski begitu, kebutuhan manusia untuk keterikatan dengan manusia lain tetap besar, terlepas dari apakah ia mampu mempertahankan ikatan itu atau tidak.

Beberapa pasangan mencoba mempertahankan relasi mereka dengan mengembangkan apa yang disebut hubungan simbiosis. Apakah itu? Simbiosis adalah asumsi tak sadar bahwa pasangan memiliki pikiran, perasaan, dan keadaan yang sama dengan diri sendiri. AKU = KAMU.

Saat dua orang bersimbiosis, mereka tak mampu mempertahankan individualitas pribadi mereka (separateness) sambil tetap terikat sebagai pasangan. Saat pasangan bersimbiosis, mereka tak mampu untuk mempertahankan batasan-batasan tertentu sambil tetap terikat sebagai pasangan. Mereka berpikir dan bertindak dengan asumsi bahwa kalau mereka saling mencintai, MEREKA HARUS BERPIKIR, MERASA, BERLAKU SERUPA, AKU = KAMU, dan KAMU = AKU. Simbiosis seperti ini berbahaya. Serupa menjadi bukti saling mencintai, berbeda apalagi bertolak belakang menjadi ancaman. Itulah simbiosis disfungsional dalam relasi. Simbiosis adalah hasil dari proyeksi diri, yaitu aku memproyeksikan diriku pada dirimu, dan kamu adalah perpanjangan diriku.

Mungkin kamu yang membacanya akan berpikir “Ah saya tidak begitu kok” atau “Nggak mungkin kami begitu”. Jangan yakin dulu, ini tanda-tandanya. Pernah berujar begini pada pasangan: “Aku tahu apa yang kamu rasakan…” atau “Kamu pasti merasa… (isi sesuai perasaan kamu sendiri)”. Atau berujar ini sehabis menonton film, “Tadi itu film paling bagus yang pernah KITA tonton!”

Mungkin kamu berkata “PASTI deh KAMU berpikir…” Tanda-tanda lain yang lebih mudah diobservasi atau dirasakan olehmu antara lain: Kamu marah/kesal saat pasangan tak mampu MEMBACA pikiranmu. “Kok kamu nggak ngertiin aku sih?” atau “Kamu harusnya tahu aku ga suka kalau…” atau “Kamu harusnya bisa paham dong, nggak perlu aku bilang” Mengakukah kamu yang menyamakan pasangannya dengan Dedy Corbuzier atau pembaca pikiran?? Even a well trained psychologist can’t do that.

Kamu yang simbiosis sering kecewa ketika pasanganmu tidak melakukan hal yang benar, dan menurutmu selalu salah. Harusnya seperti ini, sedangkan yang lainnya salah. Kamu banyak mengkritik pasangan agar mirip denganmu. Kalimatmu sering dimulai dengan kata “Harusnya kamu…” atau “Aku kan sudah bilang…” Kamu menggunakan rasa bersalah atau malunya agar ia setuju atau menurut padamu. “Coba saja kamu menurut apa kataku..” atau “Sudah kubilang kan..” Tanda lain simbiosis adalah kamu memuji atau mengatakan “Kita mirip ya, jodoh emang” saat ia melakukan seperti yang kamu mau, tetapi memarahinya kalau ia berbeda.

Muncul pertanyaan tentang bagaimana dengan relasi yang sehat dan fungsional? Jawabnya adalah relasi dimana closeness dan separateness tetap terjaga perimbangannya. Dalam hubungan sehat, dua orang secara bertahap bergerak bersama, dimana tadinya dua orbit yang berbeda menjadi dua orbit yang tetap berbeda tetapi saling overlap. Mereka tetap punya teman, minat, dan jadwal sendiri. Mereka punya pikiran-perasaan-opini sendiri, dan tetap menikmati kebersamaan. Pasangan yang relasinya sehat bukan ‘aku dan kamu’, bukan ‘aku kamu jadi kita’ tapi (dalam terminologi Imago therapy) “AKU – KAMU”. AKU – KAMU artinya AKU tetap aku dan KAMU tetap kamu, dua pribadi yang berbeda tetapi kita berhubungan dan saling mempengaruhi.

bangjeki

Fredrick Dermawan Purba

Penulis adalah staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran yang memiliki ketertarikan pribadi dan professional pada isu seputar relasi intim (intimate relationship). Ia dapat ditemui di kampus Fapsi Unpad tentunya, juga di +628122318534 atau fd_purba@yahoo.com selain juga wara-wiri di twitter dengan akun @bangjeki

(Visited 35 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments