Elegi Media Sosial

Pagi ini, saya tergugah dengan ulasan tentang banyaknya korban perkosaan pada kalangan remaja akibat interaksinya dengan orang asing melalui media sosial. Di Depok, siswi SMP menjadi korban perkosaan yang dilakukan oleh teman jejaring sosialnya yang sehari-hari adalah seorang supir angkot. Di Amerika Serikat, seorang pria berusia 19 tahun didakwa telah memperkosa teman perempuan berusia 13 tahun yang ditemuinya di Facebook. Bahkan, seorang pria asal Lexington County, William Spivey berusia 35 tahun dipenjara atas tuduhan meminta seorang anak berusia 13 tahun untuk melakukan hubungan seksual dengannya. Beruntung, permintaan Spivey tersebut diketahui oleh ibu korban.

Setelah pergantian milenium, perkembangan teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat. Saya  ingat saat kuliah (tahun 1997-1998) masih mengalami romantika pagi-pagi menunggu wartel beroperasi demi mendapatkan diskon tarif SLJJ. Berbeda dengan sekarang (tahun 2012), warung telekomunikasi sudah mati dan berubah menjadi warung kelontong atau tempat fotokopi. Dulu akses internet hanya dapat ditemui di warnet berbayar, sedangkan sekarang dengan HP berfitur GPRS-pun seseorang sudah bisa terhubung dengan media sosial di dunia maya.

Apa yang menyebabkan para remaja, adik-adik kita, dengan begitu mudah menjalin relasi dengan seseorang yang tidak dia kenal melalui media sosial di dunia maya, kemudian berujung kopi darat, dan selanjutnya segala sesuatunya bisa terjadi?

Saya ingin coba ulas satu per satu dari sudut pandang ilmu psikologi. Mohon dikoreksi bila saya salah. ^_^

1. Media Sosial merupakan representasi lingkungan seseorang di dunia maya. Lingkungan adalah tempat seseorang berada, berinteraksi, dan menampilkan jati diri. Banyak faktor yang mempengaruhi ‘keberhasilan’ seseorang di dalam lingkungannya, salah satunya adalah kepribadian (personality).

2. Kepribadian, secara sederhana saya membaginya menjadi dua tipe, Introvert dan Extrovert. Seseorang dengan tipe kepribadian Introvert, ciri yang paling mudah dilihat dalam perilaku di lingkungan sosial yang sebenarnya antara lain: pendiam, pasif, sedikit bicara, tidak mau terlihat menonjol di antara yang lainnya. Sebaliknya seseorang yang bertipe kepribadian Extrovert, memiliki ciri-ciri: supel, banyak bicara, aktif, ingin tampil memimpin, dan sebagainya.

Nah, dinamika mulai terjadi. Bagi seseorang dengan kepribadian Introvert di dunia nyata, terkadang berpikir, “Ah, asyik sekali ya, kalau aku bisa seperti si Fulan yang aktif dan banyak teman.” Media sosial di dunia maya memberikan kesempatan kepada orang yang berkepribadian tipe Introvert ini untuk berlatih merubah kepribadiannya menjadi lebih Extrovert.

Dimulai dengan membuka akun, memasang foto profil, mengisi bio, menulis status, dan menambah teman. Pada bagian menambah teman, mungkin dia lupa, teman di media sosial itu berbeda dengan teman-teman yang bisa dia temui di sekolah. Di media sosial, imej seseorang bisa dibuat menjadi sama sekali berbeda dari karakter aslinya. Hal ini sering kali menjadi jebakan bagi adik-adik remaja kita yang memiliki kepribadian labil.

Remaja adalah salah satu fase dalam perkembangan manusia, dimana identitas diri mulai mengalami pembentukan dan perubahan menuju jati diri yang kuat dan mantap. Sebuah fase yang cukup sulit untuk dilalui oleh sang remaja sendiri bila tidak memiliki role model yang sesuai dan signifikan untuk dirinya. Peran orang tua untuk menghadirkan role model yang baik dan signifikan ini sangat penting.

3. Tingkat persaingan yang tinggi dewasa ini, di segala aspek, membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk ingin segera mendapatkan apa yang dia inginkan. Di kalangan remaja saat ini, tingkat persaingan pun sudah sangat tinggi mulai dari hal sepele semisal HP. Teman memiliki HP yang pintar, sementara diri ini hanya punya HP yang cuma bisa SMS-an, bisa jadi sudah membuat seorang remaja merasa tertekan dan berpikir ingin segera mengganti HP ‘jadul’nya dengan HP yang lebih pintar setara dengan milik teman yang lain.

Di aspek pergaulan pun bisa timbul persaingan, teman-teman yang lain mulai punya ‘pacar’. Bagi sebagian remaja yang memiliki kepribadian labil, bisa jadi merasa tertekan dan juga memiliki keinginan yang sama dengan teman-teman yang lain. Namun apa daya, di dunia nyata, mereka gagal mempresentasikan diri secara apik sehingga menarik lawan jenis. Gagal di dunia nyata, mereka mencoba membangun relasi di media sosial. Secara tidak sadar mereka sudah membuat perangkap sendiri, bila tidak dilengkapi dengan wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana cara bergaul yang sehat di dunia maya.

4. Indera. Saya masih ingat sekali di mata kuliah Psikologi Umum dinyatakan bahwa Tuhan melengkapi manusia, pria dan wanita, dengan atribut-atribut yang berbeda. Pria tercipta sebagai insan yang mudah tergugah secara visual, menyukai kegiatan fisik, cenderung hanya berkonsentrasi pada satu hal sekali waktu, suka bermain, dan sebagainya. Sedangkan wanita tercipta sebagai insan yang mudah tergugah secara auditori, menyukai keindahan, mampu melakukan banyak hal sekali waktu, dan umumnya lebih peka perasaannya.

Dari sudut korban (wanita), ketika ingin menampilkan dirinya di media sosial, tentu ingin menampilkan visual yang terbaik yang bisa ditampilkan di foto profilnya dan koleksi fotonya. Dari sudut pelaku (laki-laki), berusaha memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar pada akhirnya bisa menjerat korbannya.

Biasanya pelaku tidak menampilkan foto profil diri yang sebenarnya dengan jelas, dia lebih memilih menggunakan foto-foto lain yang tidak menampilkan dirinya. Lebih kompleks lagi di dunia maya, seseorang bisa menjadi siapa saja yang dia mau. Laki-laki yang ingin menjadi perempuan, atau pun sebaliknya. Hiii… serem juga ya.

Karena pengetahuan yang kurang memadai mengenai cara berinteraksi yang sehat di dunia maya ditambah dengan kepribadian yang masih labil, pada akhirnya bisa menggiring si remaja putri kepada situasi yang merugikan dirinya, misalnya mau saja diajak bertemu dengan kawan di media sosial yang belum dia kenali kepribadian aslinya.

Pada kondisi inilah para pria yang memang berniat jahat mengambil keuntungan. Dan terjadilah berbagai kasus seperti yang saya ulas di atas.

Oleh karena itu saya ingin menutup tulisan ini dengan beberapa tips sederhana:

1. Kita harus mengarahkan anak kita agar memiliki kepribadian yang kuat.
2. Kita harus mampu menjalin komunikasi yang terbuka dengan anak kita.
3. Kita harus punya beberapa kegiatan yang bisa dilakukan dengan anak-anak kita, agar anak-anak pun merasa lebih nyaman untuk berkegiatan dengan orang tua atau keluarganya ketimbang dengan orang asing.
4. Media sosial sudah masuk dalam keseharian kita, tidak bisa kita cegah, tetapi kita bisa mengendalikannya.
5. Bila ada akses internet di rumah, harus segera diatur situs-situs mana saja yang diperbolehkan untuk diakses oleh anak-anak.
6. Sebagai orang tua, upayakan selalu punya waktu untuk anak-anak kita, meski kesibukan melanda. Perhatian kecil di saat yang tepat, Insya Allah memiliki dampak yang signifikan ke depan.

Salam!

pp_wied

Wijanarko Dwi Utomo
Psikologi Unpad ‘97

http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/12/elegi-media-sosial-500640.html

(Visited 44 times, 1 visits today)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments